Thursday, 23 April 2015

Surat Ungkapan



Selamat Ulang Tahun
Semoga bertambahnya usia akan menguatkan ikatan perasaan antara kita,
Dan memperkaya cerita indah kita, hingga kita sadar kontrak hidup kita yang tinggal sesaat.
            Muntilan, 04 Oktober 2014   

Apa kabar ? Semoga Rahmat Tuhan senantiasa melindungimu.
Adakah kesempatan untuk bercerita ? Syukurlah.
Bulan September, tahun 2014. Adalah bulan yang tersusun dari hari-hari yang penuh kesibukan. September tahun ini adalah bulan dimana aku harus mengurus lanjutan sekolahku. Ternyata persiapannya lumayan merepotkan. Mulai dari fotocopy, transfer biaya, legalisir, hingga meminta surat keterangan di berbagai tempat. Diantara kawan-kawan sekelasku dulu, mungkin hanya aku yang terlambat merasakan kesibukan ini. Mereka sekarang sudah disibukkan dengan tugas, makalah, laporan, atau presentasi, sedangkan aku mencium aromanya saja belum.
Persiapan yang cukup menyita waktu, ditambah rutinitas ditempat kerja, dari pagi hingga sore yang harus tetap dilakukan juga, hingga aku sadar bahwa kalender sudah berada di angka 29. Artinya satu minggu lagi adalah hari ulang tahunmu. Ya Tuhan, aku bahkan hampir melupakannya, jika bukan karena gambar wajahmu yang tertempel di almari itu.
Kalau tahun-tahun lalu hampir 1 bulan aku mempersiapkan hari ulang tahunmu, tahun ini hanya punya waktu 1 minggu saja. Tapi tak apa, bukankah aku sudah merencanakan untuk mendewasakan hubungan antara kita berdua ? Bukan lagi dengan kisah cinta anak remaja yang penuh dengan pamrih. Karenanya tak perlu berlebihan dan diluar batas yang ditentukan, kita buat sederhana.
Tak perlu risau, bukan karena aku tak menyayangimu hingga kita harus membuatnya sesederhana ini. Saking sederhananya hingga kita hanya tahu aku mencintaimu, dan kau mencintaiku, mari kita jaga persaan kita masing-masing hingga waktu yang menentukan kapan kita akan melangkah lebih jauh. Tapi sungguh, semenjak masuk dilingkungan tempat kerja ini,  aku sadar bahwa apa yang kita lakukan dulu untuk mengungkapkan persaan kita adalah sesuatu yang salah, sesuatu yang tidak pada tempat dan waktunya. Maka saatnya kita memperbaiki kesalahan kita, dan memulai sesuatu yang benar untuk kebaikan kita. Jika terasa berat, percayalah bahwa itu hanya karena belum terbiasa. Apa yang kita rasakan adalah sama. Aku bahkan harus banyak berpuasa untuk menahan perasaan yang membelenggu ini, dengan harapan suatu saat nanti akan nampak kebahagiaan yang kita impikan. Semoga kita menyadari akan keserdahanaan ini, bukan karena Tuhan yang memaksa kita menyederhanakannya tetapi karena kita yang terlanjur menjabarkan terlalu luas.
Sudah aku pikirkan apa yang akan kuberikan padamu, semoga kamu suka dan membawa manfaat nantinya. Dan cukuplah surat ini sebagai penyambung lidahku. Selamat ulang tahun. 

Penuh Cinta,               

Thursday, 2 April 2015

Antara Aku, Kau dan Hujan.

Hujan yang indah. Seperti katamu, musim hujan tahun ini sama sekali aku tak mengeluh pada hujan. Seperti apapun hujan itu turun, deras, gerimis, berangin, berpetir, atau gabungan dari semuanya, aku selalu berdoa mengiringi tetes airnya.

Banyak cerita diantara aku, kau dan hujan. Misalnya, dulu sekali ketika kita masih menjadi anak sekolah. Hujan kadang datang ketika kita sedang berlatih pramuka, sehingga karena datangnya kita bisa beristirahat bahkan pulang dari latihan lebih awal. Itu berarti sebentar saja kita merasakan terik matahari halaman sekolah yang membuat kering tenggorokan. Terima kasih, hujan.

Pernah hujan datang di waktu sarapan pagi. Membuatmu menunda keberangkatan menuju sekolah. Dan tentunya membuatku menunggu cukup lama untuk kedatanganmu. Bahkan tak sempat kita bertemu karena bel masuk terburu menyeru. Hikmahnya, begitu bel istirahat kamu segera mengunjungiku, mengantarkan bekal yang tak sempat kau berikan pagi itu. Sekali lagi, terima kasih hujan.

Ada kalanya hujan datang di jam pulang sekolah. Kalau itu cukup deras, maka kita akan duduk bersama di warung kantin. Menikamati minuman hangat dan sajian televisi yang kurasa tidak bermutu. Macam berita selebriti, FTV yang jalan ceritanya sangat mudah di tebak, atau sinetron yang selalu menceritakan tentang ular raksasa dan seorang pangeran yang mengendari burung elang untuk membeli obat di apotek. Kalau aku mematikan televisi itu, pasti dengan segera kau hidupkan lagi. Padahal kaupun tak mau melihatnya. Sepi! Begitu katamu. Padahal berualang kali aku katakan suara hujan itu lebih ramai dan menghibur dari suara siaran televisi. Dalam waktu yang beberapa saat itu, pasti ada banyak hal yang kita bicarakan. Banyak cerita yang di hamburkan. Senanglah bisa menghemat biaya dan tenaga daripada harus mendiskusikannya via sms. Lagi-lagi terima kasih hujan sudah menyediakan sarananya.

Rupanya dari situlah kamu selalu berkata untuk mensyukuri setiap tetes hujan yang datang. Hujan adalah berkah, hujan adalah rahmat. 
Selamat sore hujan senja, terima kasih mengingatkanku padanya, meski jauh ia tenggelam bersama gemericik suaramu.

Sunday, 22 March 2015

Surat Rindu II

Malam ini kunikmati secangkir teh kehangatan. Baunya khas, begitu juga rasa nikmatnya. Mampu mengusir lelah dan penat setelah perjalanan. Perjalanan?

Ya, baru saja kulalui beberapa jam diatas kendaraan dalam perjalanan menuju kota Semarang ini. Baru beberapa saat saja tiba disini, rasanya ingin segera menyelesaikan semua tugas dan urusan lalu segera pulang. 

Udara disini cukup membuat gerah, padahal kipas angin sudah berputar sedari tadi. Angin yang bertiuppun terasa kering, dan kasar seperti tangan para kuli bangunan yg sedang mengerjakan gedung bertingkat diseberang penginapanku. 

Untung saja, berjarak beberapa ruko disebelah barat penginapan ada warung kopi yg cukup ramai anak anak muda. Sepertinya lumayan untuk dicoba sembari menunggu rasa kantuk datang. 
Secangkir teh pesanan tersaji. "Teh mana mas ?" Tanyaku pada orang yang membawakannya. "Dieng mas" jawabnya singkat.

Walau tak sesedap buatanmu, cukuplah sebagai penenang pikiran. Selamat malam, Mi. Terkenang kau disana, jauh meninggalkan mimpi.

Saturday, 21 February 2015

Surat Rinduku




Mi ? aku baru sadar, setelah sekian hari ini. Kenapa aku masih bersemangat dengan toples tabunganku. Toples plastic yang aku isi setiap hari dengan lembaran maupun koin rupiah, lalu aku setorkan kepada petugas bank yang mangkal disekitar rumah setiap kamis pagi. Tak terasa sudah hampir 3 tahun, Mi!

Aku teringat kapan pertama aku bertemu toples itu. Itu adalah hari kamis, tepatnya adzan Isya, setelah menjemputmu di tempat les kala itu. Hari itu hujan cukup deras, hingga membuat kita basah kuyup. Maklum, tanpa menggunakan payung atau mantel, kita nekat berkendara di bawahnya hanya bermodal jaket kain yang tidak terlalu tebal.
Satu hal yang cukup menggelikan adalah wajahmu yang tiba-tiba berubah merah karena marah. Marah karena aku yang melepas jaketku di tengah hujan lebat itu. 

Rupanya kamu terlalu menghawatirkanku. Tapi, kamu tak paham, betapa berat jaketku, yang sudah basah lagi menahan angin dari laju kendara kita. Hehehe. Aku hanya tertawa dalam hati melihat sekilas wajahmu yang memerah kuanggap saja kau sedang mengusir hawa dingin yang melekat. Aku tersenyum menikmati rintik air yang menerjang pipiku, kadang cukup keras kadang hanya menggelitik.

Selesai membilas badan dan berganti pakaian di rumah, kunikmati secangkir teh di meja ruang baca. Terlintas sekilas cerita yang baru saja kujalani. Anganku terbang, berkhayal memikirkan, andai aku punya mobil sendiri pasti kita tidak perlu berbasah kuyup bila berkendara dikala hujan. Spontan saja kamu tertawa, Mi!

Syukuri apa yang kita punya, boleh bermimpi tapi juga harus berusaha. Lagi pula, bukankah kehujan-hujanan berdua itu lebih terasa romantic?

Benar juga apa katamu, lalu kenapa tadi wajahmu memerah ? oh, mungkin malu. Hahaha. Gumamku dalam hati. Kamu memang lucu, Mi!

Nah, setelah adzan Isya dikumandangkan, aku beranjak menuju tempat wudhu. Melewati dapur dan ruang makan. Tiba-tiba saja pandanganku terhenti kepada sebuah toples plastic di meja makan. Tidak terlalu besar, hanya muat untuk satu plastic rempeyek kacang buatan mbok Ju. Tetapi mempunyai tutup yang berbeda dari toples pada umumnya. Tutupnya terbagi menjadi dua bagian, satu bagian memiliki engsel diujungnya, sehingga dapat dinaik-turunkan untuk membukanya, sedang bagian yang satunya tidak. Tutup yang punya engsel memang berukuran lebih kecil, mungkin maksud pembuatnya agar makanan yang ada didalamnya awet tak cepat habis.

Mungkin toples itu bukan untuk makanan, kalau untuk celengan sepertinya cocok. Ah, sudah saatnya bergegas ke Masjid sebelum Iqomat di syiarkan. Kataku dalam hati.
Usai sholat, aku duduk di serambi Masjid bersama beberapa orang tetangga. Hanya obrolan ringan, tapi sepertinya aku tidak connect  malam itu. Kembali pikiranku  terbayang toples di meja makan itu.

Mungkin memang aku harus menabung untuk mewujudkan keinginananku. Seperti katamu Mi, harus berusaha, akan aku usahakan. Kalau sudah terwujud, kita tak perlu lagi khawatir tentang hujan di pagi hari ketika harus mengantar anak-anak. Atau pada sore hari ketika harus menjemut mereka. Dan, sepertinya dengan itu kita bisa juga mewujudkan impian kita untuk berlibur di Pulau Bali, yang katamu ingin melihat sunset dari Pantai Kuta,  menikmati udara sejuk di Kintamani, dan membuktikan apa yang dibicarakan banyak orang, banyak media tentang mayat-mayat yang tergelatak di bawah pohon di Trunyan. Sekali mendanyung, dua tiga pulau terlampaui. Bukankah begitu, Mi?

Aku sudah bertekad, tinggal bagaimana Allah yang Maha Menentukan akan membantuku. Aku masuk ke dalam Masjid, mengerjakan dua rakaat shalat dan kupanjatakan doa. Sekiranya Allah merestui langkah awalku membahagiankanmu.

Itu awal perjumpaanku dengan toples yang menginspirasiku. Awal dimana aku menabung untuk membeli mobil. Yah, walaupun hanya dari selembar dua lembar uang rupiah, tapi ternyata sekarang sudah terkumpul cukup banyak, seingatku ada sekitar dua belas juta. Tidak lama lagi aku rasa sudah cukup untuk membeli mobil yang layak, meskipun tidak baru. Aku tak berkata apapun padamu tentang langkahku ini. Aku akan mengatakannya ketika semua sudah terkumpul sesuai rencana dan kamu tidak perlu repot ikut memikirkan impianku. Orang barat bilang itu surprise.



Tinggal sebentar lagi, Mi!

Manusia hanya merencanakan. Allah lah yang menentukan segalanya. Segalanya! Tak ada yang bisa melawan kehendak Allah yang Maha Kuasa. Tinggal beberapa waktu saja, Mi. Terburu sekali kau meninggalkanku. Terlalu cepat kau pergi, Mi!
Sudahlah, Allah punya rencana yang lebih indah buatmu, Mi. Bahagialah kamu disana. 

Aku akan tetap mewujudkan impianku. Mewujudkan mimpimu, meski tidak bersamamu.

Selamat Pagi, Mi!
Kenang kau disini.
Tenang kau disana.

Sunday, 16 November 2014

Hujan Sore

Rinai hujan  berguguran membawakan kesejukan
Setiap jatuhnya mendendangkan satu nada
Jadilah sebuah lagu dengan isian cerita kita

Bisa saja kau dan aku duduk bersama untuk menyimak setiap baris dan baitnya
Secangkir teh dan beberapa potong kue tentu menambah hangat suasana

Duh, hujan mereda. Meredakan lamunan, membangunkan dari bayang-bayangmu yang kian memudar diantara barisan awan.

Monday, 6 October 2014

Ikhlas.

Suatu momen ketika angin berhembus diantara alis dan bulu matamu,
lalu bergetar menggelitik daun telingamu,
hingga akhirnya dengan sejuk mengalir dalam rongga dadamu
Saat itu kau rasa lega, hingga tak terasa bibirmu tersenyum dan matamu terpejam.
anganmu melayang, berhamburan penuh kegembiraan.


Friday, 25 July 2014

Baru saja muncul, Sob. Sosokmu dalam tayangan mimpiku
Siapa pemeran utamanya? Aku taku kamu?
Sebaiknya kia berdua saja, menikmati cengkrama yang mengalun bersama alunan cerita petualanganmu
Petikan gitarmu, lembut nyanyianmu, kadang terlebur oleh gelora semangatmu, oleh kilatan cahaya dari kedua matamu
dan kurasa sebentar saja sudah mengusir kerinduanku,
dan kurasa sebentar saja sudah membekas di benakku
dan kurasa kehangatanmu tertinggal didalam sanubariku.
Bram.

Sunday, 6 July 2014

 
siapa menyangka akan bertemu dengan gadis manis sepertimu?
Aku rasa malaikatpun lupa menulis cerita ini dalam kitabnya, sehingga tanpa sengaja kita bisa bertemu.
300 hari lalu, entah tepat atau tidak, tapi sepertinya memang sudah 300 hari. Mungkin sebelumnya aku hanya bisa terkagum lewat gambar kalender yang disana terpampang wajahmu, tapi hari itu, benar-benar secara nyata aku perhatikan setiap detil, dari jidat, sampai sandalmu. 
Memang benar kata Pak Deni, mengenalmu hanya akan membuat sakit hati, Lho? memang iya, gadis secantik kamu, pasti banyak yang suka. hahaha, tapi tidak jadi mengapa, aku sedikit demi sedikit mempelajarimu. Melihatmu tertawa, berteriak, berbicara, atau tersenyum. Siapa tak terlena melihat senyummu? Ya, ketika pipimu sedikit terangkat, bibirmu melengkung bak kawah telaga warna, dan matamu berbinar tajam, saat itulah ada angin sirep yang membius lalu menidurkan dalam lamunan.
Rupanya, menceritakannya pun membuat larut dalam bayang-bayang. Karna sampai hari ini, aku masih menyimpan rasa kagum ini. Tak perlu diungkapkan, karena aku yakin kamu sudah tahu itu. 
Judulnya : Kesucian Penyembuh
 

Wednesday, 2 July 2014

Wisuda Siswa SD Muhammadiyah Gunungpring Tahun Pembelajaran 2013/2014

Friday, 1 March 2013

#CAPEK

Bebuatlah sesukamu, takkan aku mencegahmu

Tertawalah selepas mu, takkan aku memarahimu 

Berlarilah sekencangmu, takkan aku mengejarmu

Tak harus aku berulang mengingatkanmu
Tak harus aku terus memintamu
Tak sadar kau ucap lidahmu

Bukan hadirmu untuk menemaniku
Bukan lakumu menghiburku
Bukan belaimu menidurkanku


Bukan, bukan kau

Monday, 18 February 2013

yang Cintanya tak terbalas (#Puisi-)

Engkau yang cintanya tak berbalas,
kudengar senandung lirihmu
Aku melihatmu berjalan dengan dia yang bukan aku,
bertaut jemari dalam senyum dan tawa kecil yang menyayat hatiku.

Aku berharap itu aku
yang bergetar hatinya karena sentuhan jemarimu yang anggun.
Ooh .. betapa aku berharap itu terjadi.
Aku melihatnya bergelayut manja dan bersender lembut ke tubuhmu yang damai dan wangi.

Aku berharap itu aku
yang luruh hatinya dalam syahdu karena menghirup udara beraroma kesurgaan yang mengitarimu.
Ooh … betapa aku berharap itu terjadi.
Aku melihatmu merapihkan rambutnya sambil membisikkan rencana keindahan penyatuan jiwamu dengannya.

Aku berharap itu aku
yang menggenang matanya dengan air mata haru, karena keindahan dari janji pernikahan yang jujur dan setia.
Ooh … betapa aku berharap itu terjadi.

Tuhanku Yang Maha Lembut,
Temukanlah aku dengan belahan jiwaku,
yang mengobati pedihnya cinta yang terabaikan ini,
yang mengisi palung kehidupanku yang dalam dan kosong karena kesendirian yang sunyi ini.

Aku berharap itu aku
yang berbahagia dalam pernikahan yang memanjakanku dalam kemesraan dan kesetiaan.
Wahai Yang Maha Cinta,
Ooh … betapa aku berharap itu terjadi.
Aamiin 

surat cintaku untuk seseorang, sayang tak tersampaikan.
Salam hangat, from Pak Mario. 

Who Needs Love?



Oooh darling who needs love?
Who needs a heaven up above?
Who needs the clouds, in the sky, not I

Oooh darling who needs the rain?
Who needs somebody that can feel your pain?
Who needs the disappointment, of a telephone call, not I
No I don't need that at all, not I

I'm, tired of love
Yeah, sick of love
I've taken more than enough

Oooh darling who needs the night?
The sacred hours, the fading life
Who needs the morning, and the joy it brings, not I
I've got my mind on other things, not I

Oooh darling who needs joy?
Who needs a perfect girl or boy?
And who needs to draw, that person near, not I
Because they always disappear, not I

And you know, I'm, tired of love
Yeah
Yeah I'm, sick of love
Yeah
You give me more than enough

I'm gone!

Oooh darling who needs love?
Who needs a heaven up above?
Who needs all the arguments, who needs to be right, not I
But I just can't give up without a fight, not I
No I just can't give up without a fight, not I
No I just can't give up without a fight, not I
No no no not I
Ooh no no not I
No no no no no not I 

a little note about me and Dian Agustina Saputri sequence depicted in these lyrics. 

Tuesday, 5 February 2013

Balada Hujan di Penghujung Senja (#Puisi-)


Balada Hujan di Penghujung Senja

Sudah satu jam lamanya, rintik air berjatuhan saling berkejar-kejaran
Diatas genting suaranya tek..tek..tek..
Sedang diatas seng rumah tetangga bunyinya teng..tong..teng..tong..
Ditambah suara gemuruh petir, menjadi orkes yang lebih indah dari musik manapun

Ditengah riuh air, pemuda-pemuda tampak dari kaca jendela rumah
Berlari, berkejaran, berteriak dan tertawa
Bermain sepak bola
Tanpa menghiraukan derasnya air hujan membasahi sekujur tubuh mereka terus menendang
Sampai teriakan seorang diantara mereka, memberi jeda mata disekelilingnya memperhatikan
Tubuhnya penuh lumbur terpelanting ketanah
Wajahnya lurus menatap langit, menantang setiap butir air yang turun dengan kencangnya
Kembali suasana penuh tawa kala ia angkat tubuhnya dan mulai menyeka air dari mata juga hidung dan pipi
 Tak berapa lama mereka berhamburan, suara adzan menggema, mengalun bersama gelap suasana senja

Kapan hujan akan reda?
Tidak nampak tanda debit air menurun, tapi untungnya ini bukan ibukota
Jadi, tak perlu khawatir banjir melanda

SD MuGu (#2-anakanak)


Yanuar Putra Perdana.

Namanya keren juga ya? Dia ini adalah bagian dari masa sekolah dasarku di SD Mugu yang sampai saat ini tetap aku ingat sebagai kenalan pertama di SD dulu. Ya, aku masih ingat hari pertama masuk sekolah dasar itu. Aku naik becak dari Jambu bersama ibuku tercinta. Turun tepat didepan pintu gerbang selatan SD Muhammadiyah Gunungpring yang bercat biru. Kemudian setelah itu, aku dan ibuku duduk disebuah bangku panjang terbuat dari kayu tang diletakkan di bawah cendela kelas 1A. Kelas 1A berada tepat satu langkah dari gerbang, dengan pintu kelas mengahadap ke barat.
Tidak lama kemudian, datang seorang anak seumuranku. Kulitnya coklat, agak lebih tinggi dari aku, berjalan menuju arahku bersama seorang ibu-ibu yang tinggi dan tentu lebih tinggi dari ibuku, lalu mereka duduk dibangku yang sama dengan aku dan ibuku.
Pembicaraan antar ibu pun dimulai. Bertegur sapa, lalu mengobrol. Aku hanya diam ungkang-ungkang memandangi sepatuku. Aku lupa apakah sepatuku itu baru atau tidak. Tiba-tiba ibuku mencolekku, “Fi, kenalan sama itu sana,”, kata ibuku sambil menganggukkan dagunya, dan memandang kearah anak disebelah ibu-ibu itu.
Aku bangun dari duduk dan berdiri didepan ibuku, kemudian aku mulai mencuri pandang dengan bocah laki-laki itu. Lalu aku bersalaman dengannya. Mulai saat itulah aku mengenalnya dengan nama Yanuar, bocah hitam yang asing.
Kebetulan aku dan Yanuar satu kelas di kelas 1A. Kelas yang katanya angker paling anker dan menakutkan. Pernah kejadian, waktu itu kelas kosong tidak ada yang mengajar. Tiba-tiba pintu almari kelas yang letaknya disamping meja guru terbuka dengan mengeluarkan suara khas, ngiiieekkkk. Kemudian semua anak sekelas keluar kelas sambil berteriak. Yah, harus diakui bahwa imajinasi anak sangat lucu dan aneh. Kejadian itu ternyata cukup menghebohkan, karena satu anak perempuan harus menangis karena takut, namanya Ema, anak perempuan Bu Eny. Dan akhirnya, Pak Deni, guru bahasa inggris sangat digemasri anak-anak datang kekelas 1A. Aku dan teman-teman mengikuti dibelakang Pak Deni,. Hanya masuk, menutup pintu almari, dan tersenyum. Tapi itu membuat kami lega. Lalu Pak Deni menuju ke bangku Ema, kalau tidak salah didepan sendiri baris nomor lima dari pintu. Didekat Ema ada Aya. Pak Deni bisa membuat Ema berhenti menangis, lalu berlalu dari kelas kami.
Kembali ke Yanuar, meski dia adalah kenalan pertamaku di SD, tapi dia bukan sahabat dekatku di SD. Yang aku ingat, setiap berangkat sekolah aku emlihat dia turun dari mobil antar-jemput berwarna putih dengan menggendong tas hitam dan didepan dadanya ada botol minuman bergambar yang dikalungkan. Itu pasti, dan menandakan betapa ia diperhatikan oleh ibunya. Begitu juga kalau pulang sekolah, sebelum berdoa ia pasti sudah mengalungkannya.
Mematahkan Penggaris Kayu.
Hari itu, sepertinya hari selasa. Aku bermain-main dengan penggaris kayu yang selalu dipakai bu guru. Saat asik memainkannya, tanpa sengaja aku menjatuhkan penggaris kayu itu. Dan penggaris itu pun patah, menjadi dua bagian panjang dan pendek. Kemudian aku jongkok dan duduk dilantai memandangi dua kayu coklat yang sudah tidak utuh lagi itu. Beberapa saat kemudian teman-teman kengerumuniku, dan besorak,
“hooosssno.. sokooorrr...hosssnonngg.. pkokmen hudu aku..” begitu seterusnya. Aku hanya tertunduk dan sepertinya aku menangis.
Malam harinya aku mengajak Ayah dan Ibuku untuk membeli penggaris kayu di muntilan. Ketika ditanya, aku jawab kalo teman-teman sekelas yang memintaku untu membelinya dengan uang iuran satu kelas. Padahal karena aku yang mematahkannya tapi aku tak berani mengatakannya pada ibuku apalagi ayahku. Dengan uang tabunganku dari sisa uang sakuku yang selalu aku simpan sendiri aku membeli penggaris kayu itu. Beruntung ibuku berbaik hati dan ikut menyumbangkan uangnya, aku bilang walaupun sekedar dua ribu rupiah pasti teman-teman akan menggantinya. Tapi sampai saat ini ibuku tak menanyakan uang itu.

Thursday, 10 January 2013

Seputar Keberangkatannya Ke Pulau Dewata, Bali.



Liburan semester ganjil dimulai hari ini, Sabtu 16 desember 2012. Sepertinya akan menjadi liburan yang membosankan. Untungnya ada jadwal les selama liburan yang membuat kegiatan bermalas-malasan dirumah harus terpangkas. Tetapi aku baru ingat, dalam agenda liburan sekolah, Rabu 19 Desember 2012 rombongan kelas XI akan berangkat ke Bali, selama lima hari.
Itu berarti aku tidak bisa bertemu dengan Sizu, tentunya aku akan sangat merindukan Sizu untuk waktu yang cukup lama. Kalu dihitung dari hari ini, berarti ada 8 hari yang harus aku jalani sendiri tanpa Sizu. Seperti kata banyak orang, melalui berbagai media baik cetak maupun elektronik, langsung maupun tidak langsung, bahwa waktu terasa berjalan sangat lambat dan lama, mana kala kita menunggu dan merindu.
Dengan penuh semangat aku jadwalkan aku harus bisa menjenguk Sizu sehari sebelum ia berangkat agar bisa menyampaikan sangu tapi ternyata ada sesuatu yang membuatku tak bisa melakukannya. Rasanya prasaanku menjadi sangat kacau dan tertekan. Baru Empat hari aja rasanya seperti setahun. Sudah cukup aku menikmati rasa rindu ini sendirian, dan kupaksakan esok pagi aku harus bisa berjumpa dengan Sizu. Ya semua sudah berjalan sesuai rencana, aku bangun jam empat pagi, langsung saja tanpa peduli dinginnya air aku mandi lalu ganti baju. Setelah itu menunggu matahari agak terlihat cahyanya, baru aku bisa berangkat untuk mengucapkan selamat jalan.
Dan, baru beberapa langkah saja, aku dikejutkan dengan permintaan mengantarkan priksa ke dokter, dan aku tidak bisa menolak, padahal sudah jam 05.58. Yah, aku tenangkan perasaanku sendiri dengan terus saja mengatur nafasku.
Begitu selesai periksa, untung saja tidak perlu antre berlama-lama, hanya menunggu seorang tua diperiksa diruang praktek sehinnga tak butuh waku lama. Jam 07.06 langsung saja aku melaju ke sekolah. Pagi ini harus ekstra cepat, karena laporan mengatakan bis akan segera berangkat pada jam 07.30. Kalau biasa membutuhkan waktu tiga puluh menit untuk sampai disekolah, kali ini waktu dipangkas menjadi delapan belas menit saja. Lumayan ngebut dan dramatis dijalanan.
Uuuuuhhhhh… Lega rasanya melihat tiga bis masih parkir dipinggir jalan depan sekolah. Aku melangkah, pelan. Pelan dan pelan saja sambil menata perasaan gugup yang masih melekat. Berjalan tenang menuju bis nomor satu, bis dimana Sizu duduk. Aku menaiki tangga bis, satu per satu, dan akhirnya berdirilah aku disamping kursi sopir. Mataku memburu diseisi bis. Dan kutemukan dalam pandanganku, wajah yang berbinar, cerah, dengan senyum yang amat aku rindukan. Sizu, Lindha Adity Patriana menatap kearah ku. Seketika aku merasakan angin yang begitu lembut menabrak sekujur tubuhku, sejuk. Wangi tubuhnya semakin pekat manakala ia berdiri dan menghampiriku. Kini wajahnya yang jelita jelas dihadapanku. Tak satupun kata mampu keluar dari mulutku. Tak terbayang, rindu yang menggelora bagikan deru lokomotif itu padam tanpa asap.
Tangannya yang lembut mengangkat tanganku, aku turun dari bis dan ia mengikutiku. Didepan pintu bis aku menatap wajahnya, bertukar pandang. Kusimak setiap kerdip bulu matanya, memaknai setiap pesan yang ia isyaratkan.
Tiba-tiba terlintas dalam pikiranku, lalu kubuka tas kecil disampingku. Nampaknya kegalauanku membuat sangu yang harusnya aku bawakan untuknya tertinggal di meja teras rumah. Wah, cerobohnya aku.
Terlihat semua telah memasuki bis, kuulurkan sebuah peniti dari saku jaketku. Hanya itu yang aku bawa selain tas kosong dan ponsel. Itulah akhir pertemuanku pagi itu. Aku angkat tangannya sejenak, lalu ia kembali kedalam bis.
Tiga menit yang berjalan sangat cepat, mungkin karena jam tanganku yang bertambah panas karena kegugupanku sehingga jam itu berputar kian cepat. Tiga menit yang akan mengawali hari-hari kerinduanku kembali.
Tiga menit yang tertutup oleh peniti, satu untukku dan satu untukmu.