Tuesday, 11 June 2013

Masker

Beberapa menit yang lalu, jam kerjaku hari ini berakhir. Saatnya mengeluarkan motor cantikku dan pulang. Terasa ada sesuatu yang tak mengenakkan perasaan aku berhenti sejenak diperjalan, tepatnya dihalaman Pom Bensin Mendut. Kubuka penutup tanky bensin, dan benar saja, hanya tersisa beberapa puluh centiliter saja didalamnya. ketka aku meraup uang dari saku celana belakangku, "lumayan ada uang dua ribu rupiah," gumamku. yah, setidaknya cukup untuk dapat mengantarkan pulang sampai di rumah.
Aku menuntun motor cantikku sampai didepan pompa bensin yang dijaga seorang lelaki muda dengan masker dan seragam pegawai tentunya. Tanpa ditanya aku menyerahkan uangku, akupun hanya dapat memperhatikan sebagian dari ekspresi matanya. Mungkin dibalik maskernya itu dia tersenyum mengejekku, dan bahkan didalam hatinya dia tertawa terbahak-baka.


Friday, 1 March 2013

#CAPEK

Bebuatlah sesukamu, takkan aku mencegahmu

Tertawalah selepas mu, takkan aku memarahimu 

Berlarilah sekencangmu, takkan aku mengejarmu

Tak harus aku berulang mengingatkanmu
Tak harus aku terus memintamu
Tak sadar kau ucap lidahmu

Bukan hadirmu untuk menemaniku
Bukan lakumu menghiburku
Bukan belaimu menidurkanku


Bukan, bukan kau

Monday, 18 February 2013

yang Cintanya tak terbalas (#Puisi-)

Engkau yang cintanya tak berbalas,
kudengar senandung lirihmu
Aku melihatmu berjalan dengan dia yang bukan aku,
bertaut jemari dalam senyum dan tawa kecil yang menyayat hatiku.

Aku berharap itu aku
yang bergetar hatinya karena sentuhan jemarimu yang anggun.
Ooh .. betapa aku berharap itu terjadi.
Aku melihatnya bergelayut manja dan bersender lembut ke tubuhmu yang damai dan wangi.

Aku berharap itu aku
yang luruh hatinya dalam syahdu karena menghirup udara beraroma kesurgaan yang mengitarimu.
Ooh … betapa aku berharap itu terjadi.
Aku melihatmu merapihkan rambutnya sambil membisikkan rencana keindahan penyatuan jiwamu dengannya.

Aku berharap itu aku
yang menggenang matanya dengan air mata haru, karena keindahan dari janji pernikahan yang jujur dan setia.
Ooh … betapa aku berharap itu terjadi.

Tuhanku Yang Maha Lembut,
Temukanlah aku dengan belahan jiwaku,
yang mengobati pedihnya cinta yang terabaikan ini,
yang mengisi palung kehidupanku yang dalam dan kosong karena kesendirian yang sunyi ini.

Aku berharap itu aku
yang berbahagia dalam pernikahan yang memanjakanku dalam kemesraan dan kesetiaan.
Wahai Yang Maha Cinta,
Ooh … betapa aku berharap itu terjadi.
Aamiin 

surat cintaku untuk seseorang, sayang tak tersampaikan.
Salam hangat, from Pak Mario. 

Who Needs Love?



Oooh darling who needs love?
Who needs a heaven up above?
Who needs the clouds, in the sky, not I

Oooh darling who needs the rain?
Who needs somebody that can feel your pain?
Who needs the disappointment, of a telephone call, not I
No I don't need that at all, not I

I'm, tired of love
Yeah, sick of love
I've taken more than enough

Oooh darling who needs the night?
The sacred hours, the fading life
Who needs the morning, and the joy it brings, not I
I've got my mind on other things, not I

Oooh darling who needs joy?
Who needs a perfect girl or boy?
And who needs to draw, that person near, not I
Because they always disappear, not I

And you know, I'm, tired of love
Yeah
Yeah I'm, sick of love
Yeah
You give me more than enough

I'm gone!

Oooh darling who needs love?
Who needs a heaven up above?
Who needs all the arguments, who needs to be right, not I
But I just can't give up without a fight, not I
No I just can't give up without a fight, not I
No I just can't give up without a fight, not I
No no no not I
Ooh no no not I
No no no no no not I 

a little note about me and Dian Agustina Saputri sequence depicted in these lyrics. 

Tuesday, 5 February 2013

Balada Hujan di Penghujung Senja (#Puisi-)


Balada Hujan di Penghujung Senja

Sudah satu jam lamanya, rintik air berjatuhan saling berkejar-kejaran
Diatas genting suaranya tek..tek..tek..
Sedang diatas seng rumah tetangga bunyinya teng..tong..teng..tong..
Ditambah suara gemuruh petir, menjadi orkes yang lebih indah dari musik manapun

Ditengah riuh air, pemuda-pemuda tampak dari kaca jendela rumah
Berlari, berkejaran, berteriak dan tertawa
Bermain sepak bola
Tanpa menghiraukan derasnya air hujan membasahi sekujur tubuh mereka terus menendang
Sampai teriakan seorang diantara mereka, memberi jeda mata disekelilingnya memperhatikan
Tubuhnya penuh lumbur terpelanting ketanah
Wajahnya lurus menatap langit, menantang setiap butir air yang turun dengan kencangnya
Kembali suasana penuh tawa kala ia angkat tubuhnya dan mulai menyeka air dari mata juga hidung dan pipi
 Tak berapa lama mereka berhamburan, suara adzan menggema, mengalun bersama gelap suasana senja

Kapan hujan akan reda?
Tidak nampak tanda debit air menurun, tapi untungnya ini bukan ibukota
Jadi, tak perlu khawatir banjir melanda

SD MuGu (#2-anakanak)


Yanuar Putra Perdana.

Namanya keren juga ya? Dia ini adalah bagian dari masa sekolah dasarku di SD Mugu yang sampai saat ini tetap aku ingat sebagai kenalan pertama di SD dulu. Ya, aku masih ingat hari pertama masuk sekolah dasar itu. Aku naik becak dari Jambu bersama ibuku tercinta. Turun tepat didepan pintu gerbang selatan SD Muhammadiyah Gunungpring yang bercat biru. Kemudian setelah itu, aku dan ibuku duduk disebuah bangku panjang terbuat dari kayu tang diletakkan di bawah cendela kelas 1A. Kelas 1A berada tepat satu langkah dari gerbang, dengan pintu kelas mengahadap ke barat.
Tidak lama kemudian, datang seorang anak seumuranku. Kulitnya coklat, agak lebih tinggi dari aku, berjalan menuju arahku bersama seorang ibu-ibu yang tinggi dan tentu lebih tinggi dari ibuku, lalu mereka duduk dibangku yang sama dengan aku dan ibuku.
Pembicaraan antar ibu pun dimulai. Bertegur sapa, lalu mengobrol. Aku hanya diam ungkang-ungkang memandangi sepatuku. Aku lupa apakah sepatuku itu baru atau tidak. Tiba-tiba ibuku mencolekku, “Fi, kenalan sama itu sana,”, kata ibuku sambil menganggukkan dagunya, dan memandang kearah anak disebelah ibu-ibu itu.
Aku bangun dari duduk dan berdiri didepan ibuku, kemudian aku mulai mencuri pandang dengan bocah laki-laki itu. Lalu aku bersalaman dengannya. Mulai saat itulah aku mengenalnya dengan nama Yanuar, bocah hitam yang asing.
Kebetulan aku dan Yanuar satu kelas di kelas 1A. Kelas yang katanya angker paling anker dan menakutkan. Pernah kejadian, waktu itu kelas kosong tidak ada yang mengajar. Tiba-tiba pintu almari kelas yang letaknya disamping meja guru terbuka dengan mengeluarkan suara khas, ngiiieekkkk. Kemudian semua anak sekelas keluar kelas sambil berteriak. Yah, harus diakui bahwa imajinasi anak sangat lucu dan aneh. Kejadian itu ternyata cukup menghebohkan, karena satu anak perempuan harus menangis karena takut, namanya Ema, anak perempuan Bu Eny. Dan akhirnya, Pak Deni, guru bahasa inggris sangat digemasri anak-anak datang kekelas 1A. Aku dan teman-teman mengikuti dibelakang Pak Deni,. Hanya masuk, menutup pintu almari, dan tersenyum. Tapi itu membuat kami lega. Lalu Pak Deni menuju ke bangku Ema, kalau tidak salah didepan sendiri baris nomor lima dari pintu. Didekat Ema ada Aya. Pak Deni bisa membuat Ema berhenti menangis, lalu berlalu dari kelas kami.
Kembali ke Yanuar, meski dia adalah kenalan pertamaku di SD, tapi dia bukan sahabat dekatku di SD. Yang aku ingat, setiap berangkat sekolah aku emlihat dia turun dari mobil antar-jemput berwarna putih dengan menggendong tas hitam dan didepan dadanya ada botol minuman bergambar yang dikalungkan. Itu pasti, dan menandakan betapa ia diperhatikan oleh ibunya. Begitu juga kalau pulang sekolah, sebelum berdoa ia pasti sudah mengalungkannya.
Mematahkan Penggaris Kayu.
Hari itu, sepertinya hari selasa. Aku bermain-main dengan penggaris kayu yang selalu dipakai bu guru. Saat asik memainkannya, tanpa sengaja aku menjatuhkan penggaris kayu itu. Dan penggaris itu pun patah, menjadi dua bagian panjang dan pendek. Kemudian aku jongkok dan duduk dilantai memandangi dua kayu coklat yang sudah tidak utuh lagi itu. Beberapa saat kemudian teman-teman kengerumuniku, dan besorak,
“hooosssno.. sokooorrr...hosssnonngg.. pkokmen hudu aku..” begitu seterusnya. Aku hanya tertunduk dan sepertinya aku menangis.
Malam harinya aku mengajak Ayah dan Ibuku untuk membeli penggaris kayu di muntilan. Ketika ditanya, aku jawab kalo teman-teman sekelas yang memintaku untu membelinya dengan uang iuran satu kelas. Padahal karena aku yang mematahkannya tapi aku tak berani mengatakannya pada ibuku apalagi ayahku. Dengan uang tabunganku dari sisa uang sakuku yang selalu aku simpan sendiri aku membeli penggaris kayu itu. Beruntung ibuku berbaik hati dan ikut menyumbangkan uangnya, aku bilang walaupun sekedar dua ribu rupiah pasti teman-teman akan menggantinya. Tapi sampai saat ini ibuku tak menanyakan uang itu.

Thursday, 10 January 2013

Seputar Keberangkatannya Ke Pulau Dewata, Bali.



Liburan semester ganjil dimulai hari ini, Sabtu 16 desember 2012. Sepertinya akan menjadi liburan yang membosankan. Untungnya ada jadwal les selama liburan yang membuat kegiatan bermalas-malasan dirumah harus terpangkas. Tetapi aku baru ingat, dalam agenda liburan sekolah, Rabu 19 Desember 2012 rombongan kelas XI akan berangkat ke Bali, selama lima hari.
Itu berarti aku tidak bisa bertemu dengan Sizu, tentunya aku akan sangat merindukan Sizu untuk waktu yang cukup lama. Kalu dihitung dari hari ini, berarti ada 8 hari yang harus aku jalani sendiri tanpa Sizu. Seperti kata banyak orang, melalui berbagai media baik cetak maupun elektronik, langsung maupun tidak langsung, bahwa waktu terasa berjalan sangat lambat dan lama, mana kala kita menunggu dan merindu.
Dengan penuh semangat aku jadwalkan aku harus bisa menjenguk Sizu sehari sebelum ia berangkat agar bisa menyampaikan sangu tapi ternyata ada sesuatu yang membuatku tak bisa melakukannya. Rasanya prasaanku menjadi sangat kacau dan tertekan. Baru Empat hari aja rasanya seperti setahun. Sudah cukup aku menikmati rasa rindu ini sendirian, dan kupaksakan esok pagi aku harus bisa berjumpa dengan Sizu. Ya semua sudah berjalan sesuai rencana, aku bangun jam empat pagi, langsung saja tanpa peduli dinginnya air aku mandi lalu ganti baju. Setelah itu menunggu matahari agak terlihat cahyanya, baru aku bisa berangkat untuk mengucapkan selamat jalan.
Dan, baru beberapa langkah saja, aku dikejutkan dengan permintaan mengantarkan priksa ke dokter, dan aku tidak bisa menolak, padahal sudah jam 05.58. Yah, aku tenangkan perasaanku sendiri dengan terus saja mengatur nafasku.
Begitu selesai periksa, untung saja tidak perlu antre berlama-lama, hanya menunggu seorang tua diperiksa diruang praktek sehinnga tak butuh waku lama. Jam 07.06 langsung saja aku melaju ke sekolah. Pagi ini harus ekstra cepat, karena laporan mengatakan bis akan segera berangkat pada jam 07.30. Kalau biasa membutuhkan waktu tiga puluh menit untuk sampai disekolah, kali ini waktu dipangkas menjadi delapan belas menit saja. Lumayan ngebut dan dramatis dijalanan.
Uuuuuhhhhh… Lega rasanya melihat tiga bis masih parkir dipinggir jalan depan sekolah. Aku melangkah, pelan. Pelan dan pelan saja sambil menata perasaan gugup yang masih melekat. Berjalan tenang menuju bis nomor satu, bis dimana Sizu duduk. Aku menaiki tangga bis, satu per satu, dan akhirnya berdirilah aku disamping kursi sopir. Mataku memburu diseisi bis. Dan kutemukan dalam pandanganku, wajah yang berbinar, cerah, dengan senyum yang amat aku rindukan. Sizu, Lindha Adity Patriana menatap kearah ku. Seketika aku merasakan angin yang begitu lembut menabrak sekujur tubuhku, sejuk. Wangi tubuhnya semakin pekat manakala ia berdiri dan menghampiriku. Kini wajahnya yang jelita jelas dihadapanku. Tak satupun kata mampu keluar dari mulutku. Tak terbayang, rindu yang menggelora bagikan deru lokomotif itu padam tanpa asap.
Tangannya yang lembut mengangkat tanganku, aku turun dari bis dan ia mengikutiku. Didepan pintu bis aku menatap wajahnya, bertukar pandang. Kusimak setiap kerdip bulu matanya, memaknai setiap pesan yang ia isyaratkan.
Tiba-tiba terlintas dalam pikiranku, lalu kubuka tas kecil disampingku. Nampaknya kegalauanku membuat sangu yang harusnya aku bawakan untuknya tertinggal di meja teras rumah. Wah, cerobohnya aku.
Terlihat semua telah memasuki bis, kuulurkan sebuah peniti dari saku jaketku. Hanya itu yang aku bawa selain tas kosong dan ponsel. Itulah akhir pertemuanku pagi itu. Aku angkat tangannya sejenak, lalu ia kembali kedalam bis.
Tiga menit yang berjalan sangat cepat, mungkin karena jam tanganku yang bertambah panas karena kegugupanku sehingga jam itu berputar kian cepat. Tiga menit yang akan mengawali hari-hari kerinduanku kembali.
Tiga menit yang tertutup oleh peniti, satu untukku dan satu untukmu.